Catatan Inspirasi Untuk Cinta

Ini hanyalah sebuah catatan inspirasi agar kita bisa sabar menghadapi cinta  

Pernahkah kalian merasa diabaikan/dicuekin atau bahkan memang diabaikan dan dicuekin
Nah pas sekali kalian membaca artikel ini karena saya akan memberikan inspirasi agar kalian bisa sabar dan tegar meski sulit menghadapi cinta 

Ada sebatang pohon jeruk yang tetap berdiri kokoh dan tegar meski diabaikan pemiliknya. Entah termasuk jenis jeruk apa membuat pemiliknya menelantarkannya lantaran buahnya yang tak bisa dimakan seperti jeruk pada umumnya.
Begitulah pohon jeruk itu terpaksa hanya mengandalkan datangnya hujan yang akan memberinya kesegaran dan membuatnya bertahan. Kendati diterpa teriknya sinar matahari apalagi di musim kemarau yang minus hujan tetapi pohon jeruk itu tetap berdiri tegar, berbunga dan berbuah. Walaupun buahnya hanya menunggu kuning untuk kemudian membusuk dan jatuh ke tanah, namun pohon jeruk itu tetap berbuah dan terus berbuah.
Masalahnya bisakah kita seperti pohon jeruk tersebut yang tetap tegar meski diabaikan dan diterlantarkan? Ketika kita merasa diabaikan dan diterlantarkan, ada perasaan sakit hati diikuti kekecewaan dan keputus-asaan yang ujung-ujungnya membuat kita jadi membenci bahkan mendendam orang-orang yang telah mengabaikan kita. Ketika kita merasa diacuhkan dan tidak diperhatikan, ada rasa keterpurukan yang membuat kita mulai mengasingkan diri atau membuat jarak dengan ‘arena’ yang tidak menyenangkan itu. Akhirnya kita bukannya bersikap tegar malahan kita berusaha menghindar dan lari dari kenyataan. Bukannya menghadapi kita malah bersikap pengecut dan kehilangan kendali.
Padahal situasi yang tidak menyenangkan itu semestinya melahirkan sebuah ketegaran dan keberanian untuk menghadapinya secara konsekuen dan ksatria. Memang sama sekali tidak menyenangkan ketika kita diabaikan ataupun diterlantarkan orang lain. Apalagi ketika perasaan diabaikan dan diterlantarkan itu justru muncul ketika kita lagi butuh dukungan atau perhatian ekstra besar.
Sekalipun mungkin hanya merasa diabaikan dan diterlantarkan padahal kenyataannya tidak begitu, tetap saja keadaan sedemikian akan membuat kita merasa tidak enak dan nyaman. Seperti ketika kita merasa diabaikan atau dianak-tirikan oleh orangtua kita. Ketika kita merasa ‘terbuang’ di lingkungan sekitar kita. Dan kita jadi merasa sepertinya dunia tak lagi membutuhkan kehadiran kita.
Padahal jikalau kita mencoba untuk berpikir lebih bijaksana, maka kita akan melihat sesungguhnya begitu banyak yang kita abaikan selama ini. Lihatlah rumput ilalang yang terus tumbuh meski manusia bahkan kita sendiri tak pernah memperdulikannya. Atau mereka yang kebetulan kurang bernasib baik karena harus menderita cacat fisik atau mental tetapi masih tetap bersemangat melanjutkan hidupnya.
Dan masih begitu banyak mereka yang tertindas mengalami nasib tragis namun tidak pernah menyerah untuk terus meniti hidupnya dengan tabah dan tegar. Bukankah hidup kita memang tak perlu dibangun di atas kepedulian orang lain, melainkan sepatutnya dibangun di atas kepedulian kita meniti hidup ini dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi bermakna?
TAK PERLU MERASA TERABAIKAN KARENA ADA TUHAN YANG TAK PERNAH MENGABAIKAN KITA
Merasa diabaikan atau memang benar-benar tak dipedulikan tak harus membuat kita langsung menyerah dan putus asa. Tak ada alasan untuk kemudian mengabaikan hidup kita hanya karena kita diterlantarkan atau diabaikan. Bukankah Tuhan tak pernah menelantarkan atau mengabaikan kita? Bukankah Tuhan setiap saat senantiasa mempedulikan dan memperhatikan kebutuhan kita? Tuhan tak pernah menelantarkan ciptaan-Nya. Lihat saja rumput ilalang yang tetap tumbuh meski manusia tak pernah menghargai atau mempedulikannya.
Bukankah sebatang pohon yang buahnya tak bisa dimakan atau serumpun bunga liarpun tetap memperoleh curahan kasih Tuhan lewat tetes-tetes air hujan yang membuatnya tetap hidup dan bertahan? Dan masih begitu banyak saudara-saudara kita yang tidak bernasib baik tetapi tetap bisa bertahan hidup karena Tuhan tak pernah lalai mengasihi mereka.
Kita mesti meyakini kebesaran rahmat kasih Tuhan yang senantiasa peduli dan memberkahi hidup kita. Dan masih begitu banyak uluran kasih dari orang-orang di sekeliling kita yang tak pernah bosan mengasihi kita. Adakah lagi alasan bagi kita untuk kecewa, putus asa dan terpuruk padahal kita memiliki begitu banyak berkah kasih yang dilimpahkan kepada kita? Bahkan langit, bumi, dan seisi dunia inipun senantiasa memberikan budi jasanya kepada kita. Kalau benar tak ada yang sama sekali peduli pada kita bukankah kita sudah terpinggirkan selama ini? Bahkan sekalipun memang benar-benar tak ada lagi yang mau mempedulikan diri kita, percayalah ada Tuhan yang tidak pernah menelantarkan kita.
Bukankah hidup kita memang tak perlu dibangun di atas kepedulian orang lain, melainkan sepatutnya dibangun di atas kepedulian kita meniti hidup ini dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi bermakna?
SAAT DIABAIKAN ADALAH SAAT-SAAT KITA MULAI BELAJAR….
Mungkin kita alpa menyadari bahwa saat diabaikan adalah saat-saat bagi kita untuk belajar banyak. Kita belajar untuk lebih berlapang dada menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Kita belajar untuk lebih tabah dan tegar menghadapi apa yang terjadi. Kita belajar untuk semakin rendah hati dan menuntut diri sendiri berinstropeksi diri secara tuntas sekaligus merombak diri. Bukankah semuanya itu adalah hal-hal positif yang bisa menambah keberhargaan hidup kita sekalipun kenyataannya kita diabaikan atau diterlantarkan?
Bukan sebaliknya kita malah bersikap tak bisa menerima kenyataan, menuduh atau menyalahkan sana-sini, berpikiran negatif dan membenci, yang ujung-ujungnya hanya membuat kita menderita sekaligus membuat hubungan dengan sesama semakin buruk saja. Akhirnya kita malah menambah musuh padahal sebetulnya sebabnya hanya sepele saja atau bahkan tidak ada. Bukankah tidak tertutup kemungkinan bahwa ketika kita merasa diabaikan tetapi ternyata semua itu hanya perasaan kita saja dan kenyataannya sama sekali tidak begitu? Kalau demikian bukankah kita sendiri yang rugi karena kita justru membuat karma baru dengan menambah deretan orang-orang yang kita benci?
Jadi ketika kita diabaikan, ditelantarkan, dipinggirkan dan sama sekali tak ada orang yang mau mendukung ataupun mempedulikan kita, marilah kita segera berinstropeksi diri secara Nurani. Kalau memang kekeliruan berada di pihak kita maka akuilah secara ksatria dan berusaha memperbaikinya. Sebaliknya jikalau memang kita sedang diuji maka terimalah segalanya dengan lapang dada, tabah dan tegar. Belajarlah untuk lebih berpasrah diri kepada Tuhan dan biarkanlah rencana Tuhan yang indah menghiasi hidup kita. Dengan begitu kita akan semakin tegar menjalani hidup ini meski diabaikan dan ditelantarkan.
HIDUP YANG BERHARGA ADALAH KETIKA KITA TIDAK MENGABAIKAN NURANI KITA
Meski diabaikan tak lantas membuat kita menjadi putus asa dan mengabaikan Hati Nurani kita. Kebencian, sakit hati dan dendam hanya membuat kita semakin menelantarkan suara Nurani kita. Jangan sampai segala kilesa itu membuat kita berpaling dari Hati Nurani kita. Bagaimanapun hidup yang berharga adalah ketika kita sama sekali tidak mengabaikan Nurani kita.
Orang boleh saja mengabaikan kita dan tidak mempedulikan kita. Yang penting kita tidak mengabaikan Nurani kita dengan tetap mempedulikan sesama dan tidak merasa sakit hati meski diabaikan. Tak ada pekerjaan yang hina di dunia ini yang ada hanyalah ketika kita mengabaikan Nurani kita dengan berbuat tak sesuai kebenaran. Tak ada penderitaan yang lebih hebat selain ketika kita mengabaikan Nurani kita dengan berbuat tak sesuai kebenaran. Jangan biarkan hidup kita didikte orang lain atau hanya bergantung pada penilaian dan kepedulian orang lain kepada kita. Sebaliknya marilah kita lebih mempedulikan sesama tanpa pamrih dan tuntutan.
Orang lain boleh tidak mempedulikan kita, menelantarkan kita, mengabaikan kita, tetapi kita tetap memperhatikan dan mempedulikan mereka. Tidak membalas dengan perlakuan serupa barulah berjiwa besar seperti Tuhan. Bisa berlapang dada menerima semuanya, tabah dan tegar sekalipun diabaikan. Inilah nilai plus dalam hidup kita yang membuat hidup kita semakin berharga karena kita tidak mengabaikan Hati Nurani kita.
Singkatnya marilah kita memperindah hidup kita dengan membuang segala prasangka dan bersikap lebih tegar meski diabaikan. Belajar seperti rumput ilalang yang tetap tegar meski tak ada yang mempedulikannya.

semoga bermanfaat kawan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *